Rabu, 10 Maret 2010

Makna Islam sebagai Agama Wahyu, yang Final dan Benar

Makna Islam sebagai Agama Wahyu, yang Final dan Benar

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah filsafat Ilmu
Yang diampu oleh: Ust. Syamsul Hidayat, M.Ag









Disusun oleH
IMAM WAHYUDI
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2009


BAB I
PENDAHULUAN
Agama Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Agama Islam adalah agama yang benar dan satu-satunya agama yang diterima Allah, kepercayaan selain Islam tidak akan diterima Allah. Allah SWT berfirman:
Artinya : “Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” [Ali ‘Imran: 85]
Allah Azza wa Jalla telah mewajibkan kepada seluruh manusia untuk memeluk agama Islam karena Rasulullah SAW diutus untuk seluruh manusia, sebagaimana firman Allah SWT :
Artinya : “Katakanlah: ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, tidak ada yang berhak disembah selain Dia, Yang menghidupkan dan Yang mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada Kalimat-KalimatNya (Kitab-Kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk” [Al-A’raaf: 158]
Islam memiliki keistimewaan, yaitu cocok dan sesuai untuk setiap masa, tempat dan kondisi umat. Islam dikatakan cocok dan sesuai di setiap masa, tempat dan kondisi umat maksudnya adalah berpegang teguh kepada Islam tidak akan menghilangkan kemaslahatan umat bahkan dengan Islam ini umat akan menjadi baik, sejahtera, aman dan sentosa. Tetapi harus diingat bahwa Islam tidak tunduk terhadap masa, tempat dan kondisi umat sebagaimana yang dikehendaki oleh sebagian orang. Apabila umat manusia menginginkan keselamatan di dunia dan di akhirat, maka mereka harus masuk Islam dan tunduk dalam melaksanakan syari’at Islam.







BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Agama Islam
Secara umum Islam adalah agama Allah (diinullah) yang diwahyukan kepada para Rasul-Nya sejak Nabi Adam AS sampai kepada Nabi Muhammad SAW.
Dalam pengertian ini seluruh nabi-nabi dan para pengikutnya adalah Muslimun. Tatkala orang Yahudi dan Nasrani berebut mengklaim bahwa Nabi Ibrahim adalah pemeluk agama mereka, Allah membantahnya dan mengatakan bahwa Ibrahim itu muslim.
             
“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik”. (QS Ali ‘Imran :67)
Dalam pengertian seperti itulah Allah menegaskan bahwa agama Allah hanya satu yaitu Islam dan barangsiapa mencari agama selain Islam pasti tidak akan diterima oleh Allah SWT.
•                            
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang Telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, Karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”.(QS Ali ‘Imran :19)
             
“Barangsiapa mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS Ali ‘Imran :85)
Perbedaan ajaran yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul dari masa ke masa hanyalah dari aspek syari’ah, bukan dalam aspek aqidah dan informasi tentang alam semesta. Allah berfirman:
     
“Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang.....” (QS Al Ma’idah :48)
Secara khusus Islam adalah nama diri dari agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebagai mata rantai akhir dari agama Allah yang diturunkan kepada umat manusia. Sebagai mata rantai akhir dari agama Allah, Islam yang dibawa oleh Penutup para nabi ini telah disempurnakan dan dinyatakan oleh Allah sebagai agama yang diridhai-Nya untuk seluruh umat manusia sampai Hari Akhir nanti. Allah berfirman:
           
“Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu...”. (QS Al Ma’idah: 3)
Inilah nikmat Allah yang paling besar yang dikaruniakan kepada umat ini, karena Dia yang menyempurnakan agama mereka sehingga mereka tidak memerlukan selain agama-Nya.
Setelah Allah menyempurnakan agama bagi mereka, berarti sempurnalah nikmat atas mereka. Oleh karena itu, Allah berfirman, “Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu...”. Maka ridhailah olehmu Islam untuk dirimu karena ia merupakan agama yang diridhai Allah.
Sebagai konsekuensi dari doktrin bahwa hanya Islamlah satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah SWT maka tentu saja agama-agama lain yang dianut dan diyakini oleh sebagian umat manusia ditolak kebenarannya, bukan keberadaannya. Sekali lagi yang ditolak adalah kebenarannya bukan keberadaannya. Keberadaanya tidak ditolak karena Allah tidak mau memaksa manusia untuk memeluk agama Allah. Islam mengajarkan kebebasan memilih agama. Hanya saja jika manusia memilih agama selain Islam, di Akhirat nanti mereka termasuk orang-orang yang merugi.
      ••                     
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang amat Kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Baqarah : 256)
Allah memberikan penegasan bahwa siapa saja yang menganut dîn selain Islam akan tertolak dan mereka itu di akhirat akan digolongkan sebagai orang-orang yang merugi.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
عَنْ أَبيْ هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُوْل الله صَلى اللهُ عَلَيْه وَسَلمَ أَنهُ قَالَ وَالديْ نَفْسٌ مُحَمد بيَده لَايَسْمَعُ بيْ أَحَدٌ منْ هَده الأُمة يَهُوْدي وَلَا نَصْرَا ني ثُم يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمنُ بالديْ أُرْسلْتُ به إلا كَانَ منْ أَصْحَاب النار
“Dari Abu Hurairah Ra. Rasulullah SAW bersabda: “Demi (Allah) yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada seorang pun dari umat ini (umat yang hidup setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam -pen) baik Yahudi maupun Nashrani yang mendengar tentang aku kemudian dia mati dalam keadaan tidak beriman terhadap risalah yang aku bawa melainkan dia akan menjadi penghuni neraka.” (Riwayat Muslim no: 218)

B. Ciri-ciri khusus Agama Islam
Sebagai agama yang sempurna dan disiapkan untuk seluruh umat manusia, di mana dan kapan saja sampai hari akhir nanti, Islam memiliki beberapa ciri-ciri khusus sebagai berikut:
1. Islam adalah agama yang bersumber dari Allah SWT baik melalui wahyu secara langsung (Al-Qur’an) maupun tidak langsung (Sunnah Nabawiyah) [QS. Az-Zumar :2 & As-Sajdah :2]
2. Ajaran Islam bersifat konprehensif (mencakup seluruh aspek kehidupan) [QS. Al-An’am :38]
3. Ajaran Islam bersifat universal (berlaku untuk semua umat manusia sampai akhir zaman) [QS. Al-A’raaf :158]
4. Ajaran Islam sesuai dengan fitrah manusia. [QS. Ar-Ruum :30]
5. Ajaran Islam menempatkan akal manusia pada tempat yang sebaik-baiknya secara proposional, tidak mendewakan dan tidak pula menghinakannya. [QS. Al-A’raaf :179 & QS. Luqman :20]
6. Ajaran Islam menjadi rahmat bagi alam semesta. [QS. Al-Anbiyaa’ :107]
7. Ajaran Islam berorientasi ke masa depan (Akhirat) tanpa melupakan masa kini (dunia) [QS. Al-Qashash :77]
8. Ajaran Islam menjanjikan surga bagi yang beriman dan neraka bagi yang kufur. [QS. Al-Bayyinah :6-8]

C. Aspek-aspek Ajaran Islam
Secara garis besar ajaran Islam mencakup empat aspek sebagai berikut:
1. Aqidah: Aspek keyakinan terhadap Allah, para Malaikat, Kitab-kitab Suci, para Nabi dan Rasul, Hari Akhir dan Taqdir.
2. Ibadah: segala cara dan upacara pengabdian kepada Allah (ritual) yang telah diperintahkan dan diatur tata cara pelaksanaannya dalam Al-Qur’an dan Sunnah seperti shalat, zakat, puasa, haji dan sebagainya.
3. Akhlaq: nilai dan perilaku baik yang harus diikuti seperti sabar, syukur, tawakkal, berbakti pada orang tua, berani dan lain sebagainya, serta nilai dan perilaku buruk yang harus dijauhi seperti sombong, takabur, dengki, riya, durhaka pada orang tua, dan lain sebagaimya.
4. Mu’amalah: Aspek kemasyarakatan yang mengatur pergaulan hidup manusia di atas bumi, baik tentang harta benda, perjanjian-perjanjian, ketatanegaraan, hubungan antara negara dan lain sebagainya.

D. Sumber Ajaran Islam
Sumber ajaran Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah atau Hadits Nabi Muhammad SAW. Berbeda dengan Al-Qur’an yang seluruh ayat-ayatnya bersifat qath’iyyah ats-tsubut (validitasnya sebagai wahyu Allah SWT diakui secara mutawatir), hadits baru dapat dijadikan sumber apabila validitas dan otentitasnya telah teruji dengan kriteria yang diakui oleh para ulama hadits, baik yang menyangkut sanad dan matan hadits. Hadits-hadits yang masuk kategori mutawatir semuanya dijadikan sumber, sementara hadits-hadits ahad yang dapat dijadikan sumber hanyalah yang masuk katagori shohih dan hasan. Hadits dha’if hanya dapat digunakan sebagai pelengkap, misalnya untuk menjelaskan keutamaan amalan tertentu yang keberadaanya ditetapkan berdasarkan Al-Qur’an dan hadits mutawatir, shohih atau hasan.
Segala sesuatu mengenai hidup dan kehidupan sudah diatur oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah, tapi tidak semua bersifat terperinci, ada yang diatur garis besar atau prinsip-prinsipnya saja. Untuk menetapkan hal-hal yang belum diatur hukumnya, atau untuk mengembangkan aspek-aspek yang Al-Qur’an baru memberikan prinsip-prinsipnya Nabi memberikan kesempatan kepada para ulama’ mujtahidin untuk melakukan ijtihad baik dengan menggunakan metode ijma’, qiyas, istihsah, masalah mursalah atau metode lainya.









BAB III
KESIMPULAN
Islam adalah satu-satunya agama yang diturunkan dan diridhai Allah SWT untuk manusia. Barang siapa yang mencari agama selain agama Islam, niscaya tidak akan di terima oleh Allah SWT.
Islam juga agama yang sempurna karena Allah SWT yang menyempurnakan agama Islam sehingga umat manusia tidak memerlukan selain agama-Nya.
Islam memiliki keistimewaan, yaitu cocok dan sesuai untuk setiap masa, tempat dan kondisi umat. Islam dikatakan cocok dan sesuai di setiap masa, tempat dan kondisi umat maksudnya adalah berpegang teguh kepada Islam tidak akan menghilangkan kemaslahatan umat bahkan dengan Islam ini umat akan menjadi baik, sejahtera, aman dan sentosa. Tetapi harus diingat bahwa Islam tidak tunduk terhadap masa, tempat dan kondisi umat sebagaimana yang dikehendaki oleh sebagian orang. Apabila umat manusia menginginkan keselamatan di dunia dan di akhirat, maka mereka harus masuk Islam dan tunduk dalam melaksanakan syari’at Islam





Daftar Pustaka
Al-Quran Digital Versi 2.1
Muhammad Al-Utsaimin, Syaikh. 2003. Prinsip-Prinsip Dasar Keimanan.
Ar-Rifa’i, Muhammad Nasib. 1999. Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir jilid 2. Jakarta: Gema Insani
Ilyas, Yunahar. 2003. Tafsir Tematis Cakrawala Al-Qur’an. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar